Tuesday, June 28, 2016

Gagal Beasiswa LPDP? Nyesel nggak nyoba lagi!

Sampai juga di post paling penting abad ini : Beasiswa LPDP.

First, buat temen temen yang belum tahu apa itu beasiswa LPDP bisa kepoin disini, singkatnya beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang dikelola independen di bawah Kementerian Keuangan RI. Integritas dan kekecean sistemnya bener bener super, percaya deh! J

Nah, beasiswa ini pastinya udah nggak asing buat scholarship hunter, kalian bakal nemuin banyak keunggulannya, coba aja blog walking ke awardee yang keren keren hehe. Di post ini aku bakal cerita tentang gimana ceritanya aku pernah bisa dapet kayak gini :

Alhamdulillaah. Btw fotonya diganti, karena aslinya pipinya nggak sopan hahaha
Padahal, 3 bulan sebelumnya aku pernah gagal, lihat histori akunnya :

Aku gagal di Batch 1 Tahun 2016
Sebelum kita bahas cerita kegagalannya, cek dulu, persiapannya gimana sih?

Persiapannya secara administratif bisa dicek di webnya, standar aja sih, mungkin yang agak berat emang TOEFL atau IELTS, tapi itu emang penting banget, punya skor kemampuan bahasa inggris tinggi itu bikin kita tinggal milih mau kampus di belahan dunia manapun pasti diterima (ini kalimatnya mas representatifnya University of Technology Sydney di pameran pendidikan awal tahun 2016 lalu). Karena aku ambilnya beasiswa Magister Dalam Negeri, jadi skor minimal kalo pake TOEFL PBT/ITP adalah 500.

Susah nggak sih ngejar TOEFL buat yang kemampuan inggrisnya biasa biasa aja?

Dapet skor lepas segitu sebenernya gampang gampang sulit sih, kuncinya satu : FOKUS. Skorku susah naik karena aku setengah setengah, bahkan itu nyambi di sela kegiatan sekolah dan pondok. Ceritanya dulu aku waktu semester IV tahun 2012 kuliah TOEFLnya cuma 427 (waktu listening aku tidur, capek banget seharian praktikum hahaha), trus Mei 2015 sempet kursus di Kampung Inggris Pare 2 minggu. Sekali lagi, dua minggu! Haha. Banyak yang bilang ‘niat nggak sih mau belajar kok nanggung’ hehe gimana lagi, emang adanya waktu free segitu aja *sok sibuk* wkwk. Dua minggu di Pare, skor ku masih 477, susah banget naiknya T.T. Juni 2015 aku pede daftar TOEFL ITP di Pusat Bahasa FIB Unair di saat prediction test ku belum pernah di atas 500. Hasilnya, skorku 493! Asem kan, nanggung banget haha. Agustus, aku coba lagi di tempat yang sama, malah turun jadi 490! -_-

Di Bulan Agustus juga aku sempet ngotot buat daftar LPDP pake TOEFL 493 ku, pas submit eh ternyata otomatis ditolak sistem hehehe. Jadi buat kalian yang skornya belum sesuai, keep it up yah! Kemudian aku disibukkan sama jadwal ngajar sampe amnesia TOEFL, tapi karena uda niat banget mau daftar LPDP dan aku ikut reguler (bukan afirmasi) jadi 500 emang syarat mutlak. Akhirnya, September aku mau tes lagi demi ngejar LPDP Batch IV 2015 yang pendaftarannya ditutup tanggal 19 Oktober. Ternyata aku ceroboh, ga nyari tempat tes dulu dan uda pada penuh semua L dapet tes tanggal 17 Oktober di Pusat Bahasa ITS, nggak mungkin 19 Oktober sertifikatnya keluar. Hmm. It’s okay, the show must go on.

Dan, akhirnya berapa skor TOEFL ku? 510! Haha. Zona aman super mefet cyin~ Jadi buat kalian yang pengen upgrade nilai TOEFL, harus bener bener niat ngga setengah setengah kayak aku hehe. Kemudian akhir Oktober sertifikat keluar, aku langsung submit karena emang pas Agustus udah bikin Essay dll. Fiuh, selesai.

Pengumuman administrasi tanggal 2 Februari 2016, cukup lama karena aku submit di awal periode, lumayan lah nunggunya hehe. Alhamdulillah aku lolos administrasi untuk Seleksi LPDP Batch 1 tahun 2016. Next, seleksi substansi di Surabaya.

Seleksi substansi terdiri dari On the spot Essay Writing (nulis essay di tempat, bukan nulis 7 keajaiban dunia versi on the spot~), LGD (Learderless Group Discussion) dan Wawancara.

Tips on the spot essay dan LGD : Baca berita yang lagi in dari sumber berbobot, latihan bikin mind map untuk essay dan santai jangan grogi dan biasakan berdiskusi tanpa pemimpin atau nggak mendominasi -leaderless-

Tips Wawancara : jangan mengada-ada, santai dan kuasai essay yang kita buat waktu pendaftaran sebagai interpretasi diri sendiri.

Singkat aja sih, selebihnya bisa blog walking seperti yang aku lakukan dulu, kan sebenernya post ini pengen cerita gagalnya meski belum juga sampe intinya hahaha. *maap*

Seleksi wawancara dilakukan di beberapa kota besar, kebetulan aku milih di Surabaya, tepatnya Gedung Keuangan Negara Jalan Indrapura No. 5. Langsung aja, pengumuman 11 Maret 2016, email masuk, jengjengjeeng~ :

Allah always give us the best thing at the best time ^^
Waktu gagal sedih nggak?

Enggak, karena sedihnya uda pas malam abis tes, sadar kalo ga bakalan ketrima dengan buruknya wawancara dan LGD ku hehehe. Jadi pas pengumuman biasa aja :D

Kok bisa gagal sih? Faktornya apa aja?

Nah, aku coba sharing disini. Ini subyektif dari pengalaman sendiri tapi biasanya kasusnya sama kok, meski tidak menutup kemungkinan beberapa orang bisa beda.

Pertama, Indonesia butuh kamu yang logis. Logis disini adalah kontribusi untuk Indonesia yang jelas, konkrit dan memungkinkan. Contoh : Mau kuliah jurusan kesehatan, rencana kontribusinya mau memajukan kesehatan Indonesia, ini nggak konkrit, mau memajukan yang kayak gimana? Harus detail. Contoh lain : Mau kuliah jurusan kesehatan, rencana kontribusinya mau Indonesia Sehat alias semua pengobatan jadi gratis, ini konkrit tapi nggak logis, kita siapa dan punya apa mau nggratisin? Contoh lain lagi : Mau jadi peneliti, tapi research background nya sedikit, publikasi jurnalnya cuma satu, nggak cocok sama CV sendiri alias nggak sadar kemampuan.

Solusinya : lihatlah peluang di sekitar, jangan muluk muluk mau ngerubah Indonesia kalo desa sendiri masi butuh kamu. Dengan kuliah di kesehatan, rencana kontribusi mau bekerja sama dengan aparat desa atau puskesmas untuk penyuluhan kebersihan dan kesehatan untuk anak-anak atau ibu hamil, jadilah bermanfaat untuk skala kecil dulu, sejenis itu lah. Intinya, peka terhadap kebutuhan masyarakat sekitar. Faktor kegagalan pertama ini muncul di sesi wawancara, bobotnya 60% dari total nilai, jadi fatal banget kalo jeblok di wawancara.

Kedua, jangan apatis sama permasalahan negara meski itu bukan bidang yang kamu tekuni. Ini kegagalanku di LGD. Waktu itu aku dapet topik tentang Mahkamah Konstitusi, hubungannya sama politik dinasti. Jangan jadikan alasan ‘aku bukan anak hukum’ atau ‘aku nggak suka politik’ untuk nggak update masalah beginian. Bantu Indonesia untuk keluar dari permasalahan minimal lewat pemikiranmu, tunjukkan kamu care  sama bangsamu sendiri.

Nah, selain dua faktor di atas, ada juga faktor yang lebih penting tapi ini agak susah. Cek dulu niatmu. Berat. Terlepas dari semua usaha jungkir balik buat dapetin beasiswa ini, Allah lebih tahu mana yang terbaik, diterima atau ditunda diterima, barangkali karena niat yang pengen keren dapet beasiswa atau pengen iseng? Nah loh. Hehe.

Trus, kenapa kita nyesel kalo nggak daftar lagi?

Jelas, karena menyerah dalam hal kebaikan itu sama sekali nggak didukung sama agama manapun. Setelah dapat pengumuman kegagalan, aku sempet merenung semalam. Banyak teman menyarankan untuk langsung daftar lagi, aku ngotot nggak mau. Trauma.

Tapi, aku sempet baca di blog awardee, mereka yang bangkit dari kegagalan dan diberi kesempatan di second trial alias last chance karena LPDP membatasai hanya 2x pendaftaran. Seminggu kemudian, aku manteb buat daftar lagi! Hehehe.

Apa yang harus dipersiapkan?

Pertama, koreksi diri dulu. Sayang banget kalau kita asal nyoba tanpa tahu salah kita kemarin dimana. Koreksi niat dan essay juga, kali aja niatnya kemarin kurang tepat dan kontribusi kurang cocok harus direnungin dulu juga hehe. Btw kita juga bisa mengajukan permohonan detail nilai ke : http://e-ppid.kemenkeu.go.id, bikin akun, trus minta permohonan nilai seleksi substantif LPDP dengan nomor registrasi. Tuliskan tujuan minta informasi, aku kemarin nulisnya untuk bahan koreksi diri, hehe. Jangan lupa upload KTP sebagai identitas dan formulir pendaftaran LPDP sebagai dokumen pendukung, biasanya prosesnya sekitar 10 hari kerja. Hasil dari PPID ini bisa buat nentukan tahapan yang mana yang harus banget diperbaiki.

Capture email dari PPID Kementerian Keuangan, nilaiku kurang 23 untuk ketrima ehehehe.
LPDP sistemnya passing grade guys, jadi nggak ada namanya saingan, kalo kualitas oke, pasti diterima.
Kedua, cari link sebanyak banyaknya, gabung grup whatsapp, LINE para pejuang LPDP supaya atmosfirnya kerasa, online discussionnya sangaaaat membantu, percaya deh.

Ketiga, harus lebih well prepared. Kalo kemarin kita masih ‘buta medan perang’ alias nggak ngerti teknis proses seleksinya gimana, maka sekarang mestinya amunisinya harus lebih canggih. J

Ohya, di percobaan kedua nanti biasanya psikolog bakalan nanya : kemarin kok bisa gagal kenapa?

Nah, menurut info yang aku dapat, pertanyaan ini bobotnya gede banget. Kunci menjawabnya adalah : jujur, objektif, apa adanya, menyerah dan akuilah kesalahan, tunjukkan kalau kamu udah sadar dan udah berubah, kamu yang dulu bukanlah yang sekarang~ *malah ndangndutan* wkwk

Daan, 10 Juni 2016. Alhamdulillaah, dinyatakan LULUS seleksi wawancara LPDP Batch 2 tahun 2016 J
Just enjoy the show :)
Btw kemarin ambil seleksi wawancara di Yogyakarta, sebenernya dimana aja sama sih, cuma pengen suasana baru ajaa *halah* :D

Terakhir, terimakasih telah membaca tulisan terpanjang di blog ku hehe. Semoga bisa sedikit membantu ya! Jangan menyerah, masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari pada kita, jadikan nikmat sehat dan kemampuan untuk terus berjuang J

Kalau mau tanya tanya, boleh kok kirim email ke : exmaaaaa@gmail.com J

Wednesday, June 22, 2016

LPDP Series : Perpindahan Program Studi dalam Satu Universitas

Halo, post ini dibuat khusus untuk teman teman yang sedang membutuhkan informasi cara pindah jurusan dalam satu universitas, termotivasi oleh kemarin ngurusi tapi bingung nanya siapa, rata rata kasusnya pindah universitas bukan pindah program studi hehe.

Prosesnya nggak sulit kok, tinggal ikutin alurnya aja. Tapi, sebelum mengajukan kepindahan ada beberapa yang harus dipastikan :

Pertama, pastikan grade program studi tujuan lebih tinggi. Kalau luar negeri mungkin bisa pake QS Ranks by University atau by Subject, tapi kalau aku kemarin dalam negeri kita nggak cukup punya bukti maka bisa jadi akreditasinya sama A nya tapi prodi yang dituju nggak ada di list LPDP. Solusinya tulis aja akreditasinya prodi tujuan dan lebih meyakinkan lagi tambahkan nomor SK akreditasi, bisa dicek di web BAN-PT. Search aja prodinya di http://ban-pt.kemdikbud.go.id/direktori.php, disitu udah ada hasil akreditasi dan nomor SK nya.

Kedua, alasan cukup jelas. Sebelum memutuskan untuk pindah, pastikan kita punya segudang alasan untuk diajukan supaya meyakinkan. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang keunggulan prodi tujuan dari sumber yang meyakinkan alias jangan blog atau e-news abal abal hehe.

Ketiga, sudah mengantongi LoA unconditional. Kurang tau sih ini syarat mutlak apa enggak (menurutku mungkin mutlak ya) tapi logisnya, pejabat LPDP bakalan mudah approve  kalau kita udah pasti diterima di prodi yang kita tuju.

Terakhir, ingat bahwa LPDP punya hak untuk menyetujui atau tidak menyetujui permohonan kita. Jadi kita harus bener-bener udah punya alasan cukup kuat dan tentunya jangan lupa berdoa J

Kalau dirasa sudah cukup, permohonan bisa dikirimkan ke alamat email : lpdp.dkp3@kemenkeu.go.id, lampirkan juga LoA atau Surat Keterangan Lulus dari perguruan tinggi.

Ohya, format permohonan nggak ada pedoman bakunya sih, kalau mau lihat permohonanku kemarin, bisa di download disini. Aku kemarin juga melampirkan profil prodi tujuan supaya lebih meyakinkan hehe.

Alhamdulillah, approved :)

Oke, sekian terima kasih, semoga membantu ya J

Eh, kalau ada teman teman yang mau pindah universitas, kayaknya agak sedikit berbeda sebab kita harus membandingkan ranking universitasnya juga, katanya juga ada rekomendasi ahli atau sejenisnya gitu untuk meyakinkan, lengkapnya bisa dilihat di FAQ LPDP : http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/pertanyaan-umum

Feel free for share and ask, sent your mail to : exmaaaaa@gmail.com J


See you! <3

Tuesday, June 21, 2016

My Graduate Hunter Story (Part 2)

Nah, setelah kemarin kita cerita tentang IPB dan beasiswa PMDSU di sini, sekarang aku akan ganti cerita ke kota lebih dekat. Yap, Surabaya!

Kenapa Surabaya? Karena jaraknya paling dekat.

Kenapa nggak Malang aja? Karena bikin pusing dan mabok.

Kok bisa? Bisnya 'limited edition', terkece se Indonesia raya, jalannya kayak roller coaster.

Hahaha, begitulah. 4 tahun di Malang aku nggak berhenti ngeluh akses jalannya dan request supaya bikin jembatan gantung biar Jombang-Malang sensasinya berkurang wkwk :D

Oke, kita langsung ke cerita.

Ceritanya dulu judul skripsiku hubungannya sama fisiologi reproduksi (bisa dilihat disini) yang arah penerapannya ke kedokteran kesehatan yang akhirnya bikin pengen S2 di Biomedis. Waktu semester 8 juga udah kepoin S2 Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran dan S2 Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya tapi kurikulum dan peminatannya kurang cocok (alibi menghindari histologi ya hahaha pssst) jadilah aku niat cari di Universitas Airlangga, Surabaya.

Waktu kepoin webnya PPMB UNAIR langsung jatuh cinta sama S2 Ilmu Biologi Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan. Kurikulumnya pun cocok sama yang aku pengen, menerima alumni S1 Biologi juga, jadilah cus aku ngumpulin niat dan info sebanyak banyaknya. Di fase ini pula, aku mulai semakin niat buat apply beasiswa LPDP, beasiswa ter-hits, ter-kece integritasnya di Indonesia saat ini. Trust me, it works. *kemudian bayangin iklan L-Men* haha. Apasih krik krik.

Nah, keinginan ini muncul di sekitar bulan Mei 2015 (jadi sebenernya aku lebih dulu interest ke Unair sebelum dapet info dan ngurusi IPB + PMDSU) dan hal pertama yang aku lakukan untuk LPDP dan Unair adalah : Les TOEFL (tau sendiri aku ga pinter inggris T.T) next cerita LPDP aku bakal cerita di post lain, termasuk aku pernah gagal juga di LPDP. HAHAHA asek. *strong*

Akhir 2015 disibukkan dengan jadwal ngajar dan kegiatan di pondok yang 3x lipat lebih banyak dibanding semester sebelumnya, eh aku juga tes TOEFL di area bulan ini. Di bulan bulan ini juga aku akhirnya mutusin untuk nggak jadi kuliah S2 di Januari 2016, defer ke Agustus aja karena TOEFL ku nggak naik naik dan aku ga bisa segera daftar LPDP yang di aturan beasiswa bilang kalo perkuliahan paling cepat dimulai 6 bulan sejak masa penutupan pendaftaran.

Kemudian ada yang aneh disini. Awal tahun 2016, entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba aku nggak mau ambil Ilmu Biologi Reproduksi. Hal ini mungkin dipengaruhi pertanyaannya siswa siswi di kelas yang super, mulai dari penyakitnya anak pondok a.k.a gatel, penyakit sejuta umat alias batuk pilek demam typhus, penyakitnya mbahnya pakdenya masnya bapaknya sampe penyakit reproduksi perempuan. Emang, pertanyaan murid adalah motivasi terbesar buat gurunya biar mau baca dan ilmunya berkembang hehe. Secara, masa muridnya nanya gurunya jawab : ‘cari aja di buku Guyton atau Sherwood ya’ atau bahkan lebih parah ‘kayaknya di google ada deh, coba baca baca sendiri’ Haha. Nope, semoga aku nggak tergolong guru yang seperti itu :D

Akhirnya, pilihanku jatuh di : Ilmu Kedokteran Dasar, Fakultas Kedokteran.

Lho? Bisa nggak sih alumni Biologi ambil S2 Kedokteran? Bisa, karena ini non-klinik.

Bisa jadi dokter nggak? Enggak bisa, karena dokter hanya lulusan S1 dan profesi dokter.

Kok bisa sih masuk S2 Kedokteran? Ikut tes lah, aku nggak se tajir itu buat nyogok, lagian mana bisa nyogok.

Nah, itu FAQ alias Frequently Asked Questions di BBM, whatsapp dan secara langsung ketika orang tau aku ketrima. EH. Alurnya jadi kecepetan wkwk, ya begitulah. Alhamdulillaah 20 April 2016, aku dinyatakan diterima di Unair.

Alhamdulillaah, pengumuman dari Unair

Ceritanya gimana sih? Syaratnya apa aja?

Syaratnya bisa dilihat di web PPMB Unair disitu sudah cukup lengkap kok, standar aja kok. Ijazah, transkrip, surat izin bagi yang bekerja, surat keterangan sehat, Pernyataan keaslian data, Pernyataan biaya, TOEFL (tidak ada score minimal, tidak harus ITP/iBT/dll, kampus boleh) dan rencana tugas akhir. Kalau mau lebih lengkap bisa sharing atau baca pertanyaan orang di web atau grup facebook. Tapi ingat, budayakan membaca sebelum bertanya. Admin memang digaji untuk jadi customer service officer, tapi jangan jadi bani israil-minded wkwkw (bahasa apalah ini).

Tesnya gimana?

Jadi setelah dinyatakan lengkap secara administratif bakalan dapet token untuk bayar pendaftaran di bank, trus dapet kartu peserta ujian yang berisi waktu dan tempat ujian. Kalau aku kemarin hari Minggu tanggal 10 April 2016 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Ceritanya begini...

Jadi, sabtu siang tanggal 9 aku berangkat ngebis dari Jombang dalam keadaan kaki masih sakit haha. 31 Maret-4 April ada kegiatan di Hotel Yusro, trus 4-6 April ikut ngurusi Ujian Nasional SMA/MA, trus 7 April study tour kelas 11 ke Kebun Raya, ngrasain bawa 60 anak orang dan cewek semua, rempong cyiin wkwk. 8 April tepar karena kaki sakiit semua, sambil ngebut belajar TPA haha. Trus 9 April sore di surabaya, aku malah belajar bahasa inggris cuma sekilas, itupun structure sama writing aja, liat bacaan di reading malah ketiduran sampe maghrib -_- malamnya begadang sampe jam setengah 1 ketawa tiwi sama mbak mbak di Surabaya. Hahaha. *don’t try this at home, serius*

Minggu pagi, jadwal jam 7.30, sampe di lokasi 7.25, kece kan~ trus nyari ruangan, nunggu bentar, masuk. Setelah dibacain tata tertib dan ngisi identitas di LJK, jam 8 dimulai tes pertama TPA sampe jam 9 trus bahasa inggris sampe jam 10. Jam 10 kelar, cari ruangan wawancara ternyata urutan pertama, cus masuk, di dalem cuma 7 menit kayaknya, kelar langsung pulang karena ada acara di rumah bude. :D

Wawancara ditanya apa aja?

Super thanks buat ibu drg. Risma, bu dosenku di Biologi dulu yang udah kasih clue pertanyaan yang bakalan muncul di wawancara dan 100% bener, berkisar topik skripsi dan rencana tesis, motivasi, nanti manfaatnya apa sama kesiapan finansial, ditambah pertanyaan tambahan karena aku bukan basic kedokteran, gimana cara aku ngejar ketertinggalan materi..

Nah, rasanya sudah cukup aku cerita karena tangannya sudah capek ngetik cyiin wkwk. See you soon di cerita yang lebih seru : Pengalaman Gagal LPDP! Haha. Bye!

My Graduate Hunter Story (Part 1)

Hai hai hai! Bertemu lagi dengan saya pemilik blog antah berantah yang sudah hampir amnesia kalau pernah punya blog yang isinya nggak banget hehe. See, terakhir ngepost hampir tiga tahun yang lalu dan sekarang mendarat dengan cantik lagi di blog ini, haha.

Nah, di post ini aku bakal cerita tentang Graduate Hunter Story, alias nggosip tentang pencarian kampus S2.. Here we go~

Sebenernya niat mau S2 sudah muncul sejak pertengahan tahun 2014 lagi zaman skripsi, tapi karena dulu lagi rempong banget sama penelitian jadi udah fix S2 nya maunya Januari 2016 di semester genap jadi berhenti sekitar 1,5 tahun, trus niatnya juga pengen kuliah yang nggak ngerepotin orang tua dari segi biaya meski ini rasanya susah sih, secara aku anak biasa biasa saja ga punya prestasi yang keren gitu, tapi gapapalah, bermimpi kan sah sah aja, manusia berikhtiar kan juga dinilai ibadah J *uhuk*

Di awal tahun 2015, beberapa bulan setelah wisuda rasa liat temen temen pada S2 rasanya pengen T.T tapi dipikir lagi agak mager alias pengen rehat dan menikmati jadi guru di pondok gitu, dan di bulan bulan ini aku sempet ada masalah sama diri sendiri, ngerasa kalo aku bodoh banget di bidang sosial, kecerdasan emosionalku di bawah rata rata T.T jadi aku mutusin buat terminal dulu demi belajar bersosial, komunikasi dan menikmati hidup apa adanya. Kita semua tahu, pelajaran ini nggak diajarkan di kelas, tapi kita harus terjun langsung, ngrasain sakit hatinya keberadaan dan kerja kita nggak dianggap, di ‘kritik’ di depan orang banyak dan aku nahan nangis sampe kamar hahaha, lucu juga diinget sih, tapi alhamdulillah aku bisa belajar banyak *cihuy* Gaya amat si exma, padahal mah sampe sekarang masi kekanak-kanakan wkwk :D

Trus di akhir Bulan April ada info Beasiswa PMDSU (Program Magister Doktor untuk Sarjana Unggul), beasiswa buat Sarjana keren yang kayak fast track gitu, 4 tahun langsung S2 dan S3 (gils banget kan haha). Nah, ayah dan ibu langsung semangat banget nyuruh aku daftar padahal akunya anak pas-pasan haha. Berbekal motivasi orang tua, aku mulai tentuin pilihan kampus, pilihan jatuh di Institut Pertanian Bogor (IPB) Prodi Biosains Hewan. Disini aku mulai sisihin waktu di sela ngajar untuk ke Malang cari rekomendasi ke Bu Dekan dan Pembimbing skripsiku dulu, bikin rencana riset, upload sana sini dll.

Nah, beasiswa PMDSU di IPB ini sifatnya pararel alias daftar kampus sendiri dan daftar beasiswa sendiri. Pendaftaran kampus statusnya reguler, pendaftaran beasiswa kita langsung komunikasi sama calon promotor, jadi bener bener rasa S3 haha *sok tau* Alhamdulillah pendaftaran kelar di pertengahan Juni trus aku udah move on dari beasiswa ini alias nggak mikir ini lagi karena sadar kemampuan, aku nggak bakal ketrima hahaha.

Sekitar bulan Agustus, ceritanya ada acara nikahan sepupu di Jakarta dan kami keluarga besar Bani Bishri naik kereta PP Jombang-Jakarta. Pas pulangnya, di kereta aku dikejutkan sama email pengumuman kalo aku ketrima di Prodi Magister Biosains Hewan, FMIPA, IPB! Aku masi nggak percaya haha secara di IPB gaada tes masuk, jadi bener bener diseleksi dari biodata dan research plan  yang milikku waktu itu tentang analisis DNA monyet arahnya ke biodiversitas molekuler, hal yang bener-bener jauh dari skripsiku waktu S1, entah dulu aku kenapa bisa mikir kesitu, mungkin karena aku lihat background riset dosen Biosains Hewan IPB arahnya kesana jadi kalo aku ngajukan riset itu kemungkinan diterimanya bakal lebih besar, padahal aku sendiri nggak ngeh sama yang aku tulis, sedih kan. Uh, entahlah.

Capture pengumuman dari IPB, dikirim via pos juga sama kampus, tapi aku lupa naruh dimana *parah*

See? Untuk kategori anak yang dulu matkul biologi molekulernya ngimpi terus, judul ini rasa luar biasah!
Entah nglamun dari mana -_-

Beberapa hari kemudian, pengumuman beasiswa PMDSU, daan sesuai ekspektasi, aku nggak ketrima. HEHEHEHE. Nggak sedih sih soalnya emang ga berharap banyak, cuma mungkin gagal nyenengin ortu yang pengen anaknya lulus S3 cepet, beasiswa lagi *aduh*

Nah, waktu itu batas registrasi IPB jaraknya cuma seminggu dari pengumuman, jadi kita harus bener bener super ngebut. Pas hari terakhir registrasi, aku-ayah-ibuk berunding dan kita putuskan untuk ngelepas IPB dengan pertimbangan : Pertama, kata ayah jauh (uhuhu, berasa anak bayi, gini mau di luar negeri haha). Kedua, aku kurang sreg sama jurusannya, feelingku aku bakal terseok-seok di IPB haha. Ketiga, beasiswanya nggak goal. Jadi yaa sudah bye IPB~

Begitulah ceritanya, nanti kita bertemu dengan cerita Unair di Part 2 yah! Soon J

PS :

Pendaftarannya ada di : http://beasiswa.dikti.go.id/pmdsu/
 

Write Your Memories Template by Ipietoon Cute Blog Design