Monday, December 3, 2012

Aku dan Jalan yang 'harus' Kulewati

Malam yang dingin.

Aku ingin bercerita. Tentang aku.
Ku harap kalian tak bosan membacanya.

Kawan, berapa tahun kau hidup?
Dan kau tahu makna hidup?
Bagiku, hidup adalah suatu proses untuk sebuah hasil. Dan itu adalah senyum orang yang ku sayangi, kedua orangtuaku.
Aku akan memulai bercerita. Ku harap kau tak berfikir yang tidak – tidak denganku, karena bagiku inilah hidupku, inilah prosesku untuk menggapai tujuanku.
Paksa. Ketika kau mendengar kata itu kau pasti takut. Konotasi negatif. Aku yakin semua orang tak mau dipaksa, dengan dalih ‘ini hidupku’. Namun apakah kau akan tetap beralasan seperti itu jika kemudian ternyata pilihanmu salah? Oleh sebab itu aku tak pernah merasa dipaksa.
Aku hidup seperti air atau apalah yang mengalir pada jalannya. Apa yang ada di depanku telah disiapkan, dan aku tinggal melewatinya saja. Jalannya telah disiapkan, dipilihkan oleh orang yang sangat aku sayangi. Hal yang mengasyikkan bukan? Kita tak perlu pusing untuk menentukan pilihan.
Lalu bagaimana dengan keadaan di depan? Apakah baik untukku?
Kawan, aku pernah melanggar jalan itu, tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berkali – kali, dan kau tahu hasilnya? Aku terjatuh, terpelosok, dan orang yang kusayangi menyelamatkanku, dan dia tidak marah. Dia tahu bahwa inilah pembelajaran untukku, dia tahu bahwa sejatinya aku ingin membuktikan resiko yang aku dapat ketika aku melanggarnya. Dan hingga saat ini aku masih sering melakukannya, dan dia hanya tersenyum seraya terus membantuku untuk bangun. Memalukan sepertinya, namun itulah yang aku anggap sebuah proses.
Sewaktu kecil, aku sering menangis karena merasa bahwa dia tidak pernah merasa sayang kepadaku, membuang aku ke pesantren karena malas mengurusku, dan aku merasa sesak karena seakan tidak diperhatikan. Dan kini, aku tidak pernah menyesal sekalipun masuk ke dunia pesantren.
Begitupun yang terjadi ketika memilih sekolah pada jenjang MI, MTs dan MA. Dulu aku ingin sekali sekolah negeri, yang katanya kualitasnya lebih bagus, kata temanku sekolahnya lebih megah dibanding pesantren. Namun dia menolak, menyuruhku melanjutkan di tempat yang sama. Aku hanya bisa diam. Dan kini aku sangat bersyukur dengan pilihannya, atas beberapa sebab yang tak bias kujelaskan.
Kemudian memilih perguruan tinggi, dia mengatakan bahwa aku boleh daftar dimana saja tetapi harus tetap daftar PBSB di UIN Maliki, sebab itu adalah harapannya. Aku menurutinya, dan mencoba mengikuti seleksi di perguruan tinggi lain, alasannya sederhana, PBSB itu sulit ditembus dan jujur ketika itu aku pesimis, apalagi terdapat syarat plus di UIN Maliki. Akhirnya aku daftar di salah satu PTN di Surabaya, dan alhamdulillah diterima, kemudian problemnya adalah dia tidak menemukan pesantren yang menurutnya cocok di sekitar kampus itu. Gagal.
Akhirnya kumantapkan hati di PBSB, menumbuhkan rasa optimis berat sekali rasanya. Hingga pada memilih jurusan di PBSB, aku bersikeras Fisika atau Informatika, dia menyuruhku pada Biologi. Yang ku ingat ketika sebelum tes dan aku jujur padanya bahwa aku benar benar pesimis, dia dengan santai berkata bahwa yang terbaik untukku adalah: PBSB, UIN Maliki, Biologi, Tahfizh dan Pesantren. Aku berdoa semoga dia tidak salah.. Aku hanya bisa diam dan menuliskan jurusan Fisika pada pilihan kedua. Dan aku lolos pada jurusan Biologi. Aku bersyukur sekali, ternyata aku belum bisa mengukur kemampuanku sendiri, kemampuan fisika ku payah.
Hingga kemudian hari – hari indahku di Malang dimulai. Menemukan saudara yang membuat aku tidak merasa sendiri disini. Dia bahagia sekali. Merasa berhasil mengantarkanku. Semangat dan harapannya padaku begitu besar. Terbukti dengan dia mengantarku ke Malang, mengantarkan kembali ke Malang setelah liburan semester untuk membelikan buku untuk putrinya, harapannya agar aku tidak tertinggal, dan bukti – bukti lainnya.
Sampai detik ini, dia sibuk juga membantuku mencarikan tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang sesuai denganku dan tentunya aku harus tinggal di pesantren. Menyemangati dan memberikan doa kepadaku ketika UTS, UAS dan untuk segera penelitian dan menyelesaikan studi dan al Qur’an ku, dan lain sebagainya.
Seharusnya aku semakin sadar, betapa Allah sayaaaaang kepadaku, menganugerahkan ayah dan bunda yang segalanya untukku… Aku mencintainya karena Allah.. Amin
Malang, 29 Nopember 2012


*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Penerima beasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi angkatan 2010.
Ditulis pada Festival Santri Indonesia Menulis di PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. 30 Nopember - 02 Desember 2012

0 comments:

Post a Comment

 

Write Your Memories Template by Ipietoon Cute Blog Design